Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Iklan

Antara Warung Kopi dan Pusat Perbelanjaan:; Cerita Lain Denyut Nadi Ekonomi Kota Soppeng

Senin, 08 Juni 2026 | Juni 08, 2026 WIB | Last Updated 2026-06-09T03:39:08Z
SOPPENG.THEHEADLINE.ID---Di jantung Kota Soppeng, kehidupan berjalan dengan irama yang unik. 

Sepanjang siang hingga sore hari, lalu lintas orang terus bergerak melintasi kawasan yang dikenal sebagai pusat keramaian. 

Namun, ada satu hal yang menarik perhatian, meski orang-orang lewat silih berganti, langkah kaki mereka seolah memiliki arah yang berbeda. 

Sebagian besar lebih memilih berhenti sejenak, duduk santai, dan bercengkrama di warung kopi, dibandingkan melangkah masuk ke dalam bangunan megah yang tak jauh dari sana " Pusat Pertokoan Soppeng " atau yang akrab disebut Pusper.
 
Pusper berdiri kokoh di tengah permukiman warga, tepat di lokasi yang sangat strategis. 

Bangunan ini telah beberapa kali mengalami perbaikan dan renovasi agar tampil lebih layak, rapi, dan nyaman sebagai tempat bertransaksi. 

Secara fisik, ia memenuhi syarat sebagai pusat belanja yang ideal, akses mudah, lokasi sentral, dan memiliki banyak los yang siap diisi berbagai jenis barang dagangan. 

Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain. Di balik pintu dan lorongnya, suasana terasa hening. Hanya sedikit pengunjung yang terlihat, dan sebagian besar ruang usaha tampak sepi dari aktivitas jual beli yang menggairahkan.
 
Berbanding terbalik dengan suasana di Pusper, jarak beberapa meter saja, suasana hidup justru terasa begitu kental di deretan warung kopi yang tersebar di sekitar kawasan itu. 

Mulai dari yang sederhana beratap seng hingga yang sudah tertata lebih modern, hampir semuanya dipenuhi orang-orang. 

Ada yang datang sendirian, ada pula yang berkelompok. Mereka duduk berhadapan, ditemani secangkir kopi susu atau teh manis, saling bertukar kabar, membahas berbagai hal, sekadar melepas lelah, atau bahkan merencanakan urusan usaha.
 
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan, mengapa tempat yang dibangun khusus untuk berbelanja justru sepi, sementara tempat minum kopi menjadi tujuan utama masyarakat?
 
Bagi warga Soppeng, warung kopi bukan sekadar tempat untuk memuaskan dahaga. 

Ia adalah ruang sosial yang hidup, warisan budaya yang telah mengakar kuat. 

Di sini, tidak ada batasan waktu yang kaku, Orang bisa datang kapan saja, duduk sepuasnya, dan berinteraksi tanpa tekanan. 

Suasananya akrab, hangat, dan terasa seperti di rumah sendiri, Harganya pun terjangkau bagi semua kalangan, sehingga menjadi titik temu yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat.
 
Sementara itu, Pusper, meski telah diperbaiki, masih terasa sebagai tempat yang “resmi” dan kaku. 

Bagi sebagian orang, masuk ke pusat pertokoan identik dengan keharusan berbelanja. 

Jika tidak ada kebutuhan mendesak, mengunjunginya terasa kurang memiliki alasan. 

Belum lagi tantangan dari sisi variasi barang dan kenyamanan berbelanja yang mungkin belum sepenuhnya memenuhi selera masyarakat saat ini.
 
Namun, di balik perbedaan ini tersimpan harapan, Pemerintah daerah diketahui tengah merencanakan penataan ulang Pusper agar bisa kembali bernapas. 

Niatnya adalah mengembalikan fungsi Pusper sebagai pusat ekonomi yang hidup, namun mungkin juga perlu belajar dari keunikan warung kopi menciptakan ruang yang tidak hanya tempat bertransaksi, tetapi juga tempat yang terasa nyaman, ramah, dan mampu memikat hati masyarakat untuk datang, tinggal, dan beraktivitas.
 
Sampai saat itu tiba, potret Soppeng hari ini tetaplah menarik, dua wajah pusat kota yang saling berdampingan. 

Warung kopi terus menjadi saksi persaudaraan dan tempat berbagi cerita, sementara Pusper menanti sentuhan baru agar bisa kembali menjadi denyut nadi perdagangan yang sejajar dengan keramaian yang tumbuh subur di sekitarnya.

Penulis: Cc@ye
×
Berita Terbaru Update