SOPPENG.THEHEADLINE.ID---Nilai-nilai kepemimpinan tradisional masyarakat Bugis kembali mencuat ke permukaan setelah budayawan dan wartawan, A. Agus PH Rauf, memaparkan tiga karakter kepemimpinan yang terinspirasi dari naskah kuno Lontara Bugis.
Dalam diskusi yang digelar di Warkop Triple F Pusper, Kabupaten Soppeng, Agus PH menjelaskan bahwa ketiga karakter tersebut dilambangkan melalui tiga hewan dengan filosofi mendalam:
Manu Karame (ayam), Tedong (kerbau), dan Bale Bolong (ikan gabus). Masing-masing karakter ini menawarkan cerminan tentang sifat dan perilaku pemimpin yang relevan dalam konteks sosial dan pemerintahan modern.
"Pertama, ada karakter Manu Karame atau ayam.
" Pemimpin tipe ini tetap memberi makan anak-anaknya, tetapi porsi yang lebih besar justru dinikmati oleh induknya sendiri. Ini mencerminkan pemimpin yang memperhatikan rakyatnya, tetapi lebih mengutamakan kepentingan pribadi," ungkap Agus PH.
Agus mencontohkan, pemimpin dengan karakter Manu Karame seringkali ditemukan dalam dunia politik dan birokrasi, di mana kebijakan yang diambil cenderung menguntungkan diri sendiri atau kelompok tertentu.
Karakter kedua adalah Pakkampi Tedong atau penggembala kerbau.
"Pemimpin seperti ini adalah sosok ideal. Ia merawat dan mengobati kerbaunya yang sakit, mengingat jasa dan tenaganya di masa lalu. Ini melambangkan kesetiaan dan penghargaan atas pengabdian," jelas Agus.
Filosofi ini menekankan pentingnya menghormati dan menghargai bawahan atau rakyat yang telah berjasa. Kesetiaan dan penghargaan terhadap pengabdian adalah nilai utama dalam menjaga harmoni sosial menurut budaya Bugis.
Karakter ketiga adalah Bale Bolong (ikan gabus), yang menggambarkan pemimpin yang rakus dan kejam.
"Dalam budaya Bugis, ikan gabus dikenal sebagai hewan yang tega memakan anaknya sendiri jika lapar. Ini adalah simbol kepemimpinan yang tidak berperikemanusiaan," tutur Agus.
Pemimpin seperti ini dianggap tidak layak karena mengorbankan rakyat yang seharusnya dilindungi.
Agus menegaskan bahwa ketiga karakter kepemimpinan ini bukan sekadar metafora dalam sastra Bugis, tetapi juga cermin bagi siapa pun yang memegang tanggung jawab kepemimpinan.
"Lontara Bugis mengajarkan kita untuk selalu mawas diri. Setiap pemimpin sebaiknya merenungkan nilai-nilai budaya agar tidak menjadi pemimpin yang hanya berkuasa tanpa makna," pungkasnya.
Pandangan Agus PH ini menjadi pengingat penting dalam dinamika politik dan sosial saat ini.
Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam Lontara Bugis diyakini masih sangat relevan untuk menumbuhkan etika dan moral kepemimpinan yang berakar pada budaya dan kemanusiaan.
Penulis: Cc@ye


