SOPPENG.THEHEADLINE.ID--Matahari baru saja terbenam, langit mulai merona jingga, dan semua orang bergegas pulang.
Pekerjaan belum selesai, pikiran masih tertinggal, rencana makan malam pun sudah disusun rapi.
Namun begitu lampu dinyalakan sekejap semuanya gelap.
Pemadaman bergilir kembali terjadi di tengah musim kemarau yang seharusnya membawa terang.
Bukan sekali, bukan dua kali. Sudah menjadi pemandangan rutin yang kini mulai menggerus kesabaran warga Bumi Latemmamala.
"Belum sempat menyuap sendokan pertama, listrik sudah mati. Mau melanjutkan pekerjaan? Tak ada cahaya. Mau beristirahat? Gelap gulita." Kesalnya.
Keluhan terdengar dari lorong-lorong kampung hingga ke pusat kota.
Warung kopi pun ikut merasakan dampaknya, pelan tapi pasti, aktivitas harian perlahan terhenti seiring padamnya aliran listrik.
Hingga kapan ini akan terus berulang?
Itulah pertanyaan yang kini bergema di setiap sudut rumah yang remang-remang.
Apakah kita harus terbiasa hidup dalam ketidakpastian? Atau mungkinkah kita perlahan kembali ke masa lampau, di mana penerangan hanya bergantung pada pelita dan lilin?
Musim kemarau seharusnya membawa harapan, bukan kegelapan.
Warga tak menuntut kemewahan, mereka hanya meminta satu hal sederhana, kepastian terang di kala malam tiba.
Sampai kapan tanda tanya ini akan menggantung? Semoga pertanyaan sederhana dari ribuan rumah yang gelap ini segera menemukan jawabannya.
Penulis: Cc@ye










