SOPPENG.THEHEADLINE.ID---Suara warga Desa Baringeng, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, semakin menguat.
Polemik pengelolaan Dana Desa untuk program Ketahanan Pangan (Ketapang) tahun anggaran 2025 kini memuncak pada satu tuntutan tegas, Aparat Penegak Hukum, segera turun tangan dan audit investigatif.
Program nasional yang semestinya menjadi tulang punggung kemandirian ekonomi warga desa justru dinilai jalan di tempat dan gagal membawa dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Lebih mengkhawatirkan, temuan warga dan pegiat sosial di lapangan mengungkap indikasi kuat ketidaksesuaian antara anggaran yang dikucurkan dengan realisasi fisik di lapangan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, ada tiga persoalan krusial yang mengemuka.
- Alur belanja tidak transparan dan disinyalir sarat manipulasi Rencana Anggaran Biaya (RAB)
- Program dinilai salah sasaran, minim pelibatan kelompok tani lokal sehingga manfaat tidak merata
- Pengawasan dinilai lemah, membuka celah kerugian keuangan negara di tingkat desa
Warga tak ingin sekadar bertanya, mereka ingin kejelasan.
Desakan agar kepolisian dan kejaksaan segera melakukan audit investigatif kini bergema luas.
Dihubungi terkait polemik ini, Kepala Desa Baringeng, A. Aris, menyebut sedang di kantor desa untuk menyelesaikan persoalan.
"Iye, itu namanya sipakatau kalau sebelumnya ada penyampaian," ucapnya singkat.
Tak lama kemudian, melalui pesan WhatsApp, Kades Andi Aris menjelaskan bahwa Dana Ketapang Desa Baringeng berupa penyertaan modal ke BUMDes dengan kegiatan berupa peningkatan produksi tanaman pangan, yakni penjualan bibit jagung.
"Kegiatannya, peningkatan produksi tanaman pangan (penjualan bibit jagung)," sebutnya, Kamis (10/9/2026).
Penjelasan ini pun belum sepenuhnya meredakan keresahan warga.
Warga berhak tahu berapa nilai anggarannya? Berapa bibit yang disalurkan? Siapa penerimanya? Dan apa hasilnya di ladang?
Hingga saat ini, warga masih menunggu jawaban yang transparan, lengkap, dan terbukti secara fisik.
Bukan sekadar penjelasan singkat, tapi bukti nyata di atas kertas maupun di tanah pertanian.
Penulis: Cc@ye










