Ket fhoto: Fitriani bersama bapak kandung saat mengambil Ijazahnya di sekolah
SOPPENG.THEHEADLINE.ID----Nama Fitriani siswi yang kini duduk di kelas II SMP Negeri Labokong, Kecamatan Donri-Donri, menjadi perbincangan hangat dan menyita perhatian publik setelah kisahnya viral di media massa.
Ia diketahui telah tamat Sekolah Dasar (SD) di SDN 37 Kabaro, namun haknya sebagai siswa berupa ijazah sempat tidak diterima karena alasan tunggakan uang komite.
Di balik persoalan dokumen pendidikan itu, tersimpan kisah hidup gadis remaja ini yang jauh lebih menyentuh hati dan penuh perjuangan.
Meski menghadapi banyak keterbatasan dan cobaan, Fitriani membuktikan semangat belajarnya tetap tinggi.
Ia mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bersekolah dengan rajin, dan berjuang mengejar cita-cita meski harus menempuh hidup yang tidak mudah.
Tim media Theheadline.id menyambangi kediaman Fitriani di wilayah Kabupaten Soppeng, Sabtu (30/5/2026), untuk menelusuri lebih dalam kehidupan sehari-hari gadis kecil yang tangguh ini.
Di sana, terungkap fakta yang memilukan namun sekaligus menunjukkan betapa kuatnya jiwa anak ini.
Di rumah sederhana itu, Fitriani tidak tinggal bersama ayah maupun ibu kandungnya.
Ia hanya menempati rumah tersebut berdua saja bersama kakaknya.
Keduanya harus mandiri mengurus diri sendiri sehari-hari, jauh dari kasih sayang langsung orang tua yang telah berpisah.
Nenek kandung Fitriani yang tinggal tidak jauh dari kediaman kedua cucunya menceritakan kondisi nyata yang dialami Fitriani dan kakaknya.
Sang nenek mengaku khawatir namun berusaha selalu ada untuk memastikan cucu-cucunya tetap terurus, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti makan.
“Memang hanya berdua kakaknya yang tinggal di sini. Kalau mau makan siang atau makan malam, mereka selalu datang ke rumah saya yang tidak jauh dari sini,” ujar sang nenek dengan nada suara yang menyiratkan keprihatinan mendalam.
Dari penuturan neneknya, terungkap kisah masa lalu yang menjadi latar belakang beratnya kehidupan Fitriani.
Orang tua kandungnya telah berpisah, Keduanya kini telah memiliki pasangan hidup baru dan membangun keluarga masing-masing di tempat yang berbeda.
Kondisi inilah yang akhirnya membuat Fitriani dan kakaknya harus berpisah tempat tinggal dari orang tua, dan memilih untuk tinggal berdua, mengandalkan kekuatan satu sama lain serta perhatian dari nenek mereka.
“Orang tuanya sudah pisah, dan keduanya sudah menikah lagi, memiliki pasangan baru masing-masing. Jadi, Fitriani dan kakaknya yang harus kuat dan ikhlas menjalani kehidupan sehari-hari seperti ini,” jelas neneknya.
Meski hidup dalam keterbatasan dan harus berjuang sejak dini tanpa dampingan langsung ayah dan ibu, Fitriani tetap menunjukkan ketabahan yang luar biasa.
Ia tidak pernah mengeluh, tetap bersekolah dengan rajin, dan kini bernapas lega karena kabar baik telah datang: ijazah SD yang sempat tertahan hampir dua tahun akhirnya sudah diserahkan pihak sekolah setelah kasus ini mendapat perhatian luas.
Kisah Fitriani menjadi cermin ketangguhan seorang anak yang terpaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia mengajarkan kita bahwa meski takdir kehidupan tidak selalu berpihak, semangat, keikhlasan, dan kekuatan hati adalah modal utama untuk tetap melangkah maju, bersekolah, dan bermimpi menggapai masa depan yang lebih baik.
Penulis: Cc@ye


