Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Iklan

Hati Pilu Jumardi; Menempati Rumah Baru dalam Kegelapan, Ironis Rumah Sebelah Terang Benderang

Rabu, 06 Mei 2026 | Mei 06, 2026 WIB | Last Updated 2026-05-06T12:16:34Z
SOPPENG.THEHEADLINE.ID---Momen menempati rumah baru seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi setiap keluarga. 

Namun, kebahagiaan itu terasa hampa dan menyayat hati bagi Jumardi, warga Dusun Kabaro, Desa Labokong. 

Saat ia resmi "menaiki" atau menempati hunian barunya, Rabu (6/5/2026), ia hanya bisa termenung memandang ruangan yang masih gelap tanpa sentuhan cahaya listrik.
 
Ketika tim media berkunjung ke lokasi, pemandangan yang disajikan sungguh mengiris hati. 

Di tengah area yang masih dikelilingi pohon pisang, berdiri kokoh bangunan tempat tinggal baru keluarga Jumardi. 

Ironisnya, tepat di sebelahnya terdapat bangunan permanen lain yang sudah menikmati aliran listrik PLN dengan terang benderang.
 
Hal inilah yang membuat bingung dan kecewa. 

Bagaimana mungkin rumah sebelah bisa terhubung dengan baik, sementara permohonan Jumardi ditolak mentah-mentah dengan alasan klasik: "Daya rendah".
 
Keinginan sederhananya untuk hidup layak dan membayar tagihan listrik seperti warga lainnya seolah tak didengar. 

Hingga saat ini, tak ada pihak yang hadir mendampingi atau mencari solusi nyata, membuat keluarga ini harus berjuang sendiri melawan kegelapan.
 
Merespons keluhan yang tak kunjung usai, pihak Pemerintah Desa dan perwakilan rakyat di wilayah Donri-Donri akhirnya angkat bicara. 

Mereka menyatakan kesiapan untuk menjadi jembatan.
 
"Nanti saya ke kantor PLN dan bersedia tetap menghubungi untuk menanyakan apa kendala sebenarnya sehingga jaringan PLN tidak bisa masuk," ujarnya saat dihubungi Theheadline.Id.
 
Namun, janji manis ini masih menjadi tanda tanya besar. Warga berharap ini bukan sekadar basa-basi politik semata, melainkan ada tindak lanjut yang nyata.
 
Dalam perbincangan hangat di kediaman Jumardi, terungkap fakta yang cukup mencengangkan. 

Salah satu warga memperlihatkan foto dan mengaku mengenali sosok yang datang ke lokasi untuk melakukan survei dan memberikan keputusan bahwa daya di sana tidak memadai.
 
"Yang datang mensurvei dan menelfon bilang daya rendah itu, kami kenal. Ternyata dia hanya seorang satpam di kantor PLN Soppeng," ungkap salah satu yang berada di kediaman Jumardi.
 
Tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan besar. Apakah keputusan teknis yang sangat penting dan berdampak pada kehidupan warga, cukup ditentukan hanya oleh petugas keamanan tanpa melibatkan tenaga teknis atau engineer yang ahli di bidangnya?
 
Kini, doa dan harapan satu-satunya warga hanyalah agar ada belas kasihan dan kepedulian sungguhan dari pihak berwenang, agar malam-malam panjang di rumah baru itu tidak lagi dihabiskan dalam kesunyian dan kegelapan.

Penulis: Cc@ye
 
×
Berita Terbaru Update