SOPPENG.THEHEADLINE.ID---Di tengah hiruk-pikuk pelayanan publik di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Soppeng, sosok Andi Fathurrahman atau yang akrab disapa Andi Fatur atau AFR dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, cekatan, dan penuh semangat.
Di balik senyumnya yang ramah, tersimpan kisah panjang perjuangan, kegigihan, dan keyakinan tak tergoyahkan bahwa setiap usaha yang disertai kesabaran akan berbuah manis pada waktunya.
Lahir di Watansoppeng, 3 Juli 1993, Andi Fathurrahman menempuh pendidikan dasarnya di SDN 22 Jera’e.
Dikenal sebagai anak yang cerdas dan berakhlak baik, ia kemudian melanjutkan pendidikan menengah di lingkungan Pondok Pesantren Yasrib Lapajung, menempuh jenjang MTs hingga MA.
Di lingkungan pesantren inilah benih-benih kedisiplinan, ketekunan, dan nilai-nilai luhur keagamaan tertanam kuat dalam dirinya, menjadi bekal utama saat ia melangkah ke dunia pengabdian masyarakat.
Perjalanan bakti Andi Fatur dimulai sejak tahun 2012. Saat itu, muda dan penuh idealisme, ia mengawali kariernya sebagai Penyuluh Agama Islam Non PNS di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lalabata hingga tahun 2014.
Semangatnya yang tinggi dalam memberikan pelayanan dan pencerahan kepada masyarakat menarik perhatian pihak Kementerian Agama.
Pada Agustus 2014, ia resmi bergabung menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Soppeng dengan penugasan di bidang kehumasan sebuah ranah yang kelak akan menjadi identitas dan keahlian utamanya.
Di dunia kehumasan, Andi Fatur menunjukkan kualitas yang luar biasa. Ia tidak hanya bekerja, tetapi juga berinovasi dan berdedikasi penuh.
Hasilnya, nama Andi Fathurrahman menjadi langganan penghargaan. Selama tiga tahun berturut-turut, yakni 2015, 2016, dan 2017, ia dinobatkan sebagai Humas Kementerian Agama Terbaik I Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan.
Prestasi ini kembali dipertegas pada tahun 2018 saat ia masuk dalam jajaran lima besar Humas Teraktif se-Provinsi Sulawesi Selatan.
Namanya harum, kinerjanya diakui, namun status kepegawaian masih menjadi tantangan besar yang harus ia taklukkan.
Jalan menuju status aparatur pemerintah bukanlah jalan mulus tanpa rintangan.
Andi Fatur harus belajar makna ketabahan sejati. Berulang kali ia mendaftar dan mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), khususnya pada formasi yang menjadi keahliannya, Kehumasan.
Tahun 2019, ia mencoba peruntungan di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, namun belum berhasil.
Tahun 2020 mencoba di Pemerintah Kota Makassar, kembali belum membuahkan hasil.
Tidak menyerah, tahun 2021 ia melamar ke Pemerintah Kabupaten Pinrang, dan tahun 2022 kembali mengikuti seleksi di Kementerian Agama wilayah Sulawesi Selatan.
Hasilnya sama: belum berhasil. Empat kali berturut-turut menghadapi kegagalan, namun tidak satu pun dari kegagalan itu mampu memadamkan semangatnya.
Bagi Andi Fatur, kegagalan hanyalah koma, bukan titik akhir. Ia memegang teguh prinsip hidupnya: “Kegagalan bukan alasan untuk berhenti, melainkan pelajaran untuk terus melangkah hingga Allah menentukan waktu terbaik untuk berhasil.”
Dan keyakinan itu akhirnya menemukan jawabannya.
Pada Agustus 2023, setelah melewati liku-liku waktu dan perjuangan panjang, momen yang ditunggu akhirnya tiba.
Andi Fathurrahman resmi menerima Surat Keputusan (SK) sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dengan jabatan Pranata Humas pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Soppeng.
Momen keberhasilan ini tentu bukan kerja kerasnya seorang diri. Ia menyadari bahwa di balik pundak yang kuat, ada doa dan dukungan yang tak terputus.
Ia menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada kedua orang tua, istri tercinta, serta seluruh keluarga yang senantiasa menjadi rumah tempat ia pulang dan berbagi harapan.
Tak lupa, ia juga mengapresiasi para pimpinan dan mentor yang telah menjadi pelita dan pembimbing di setiap langkah kariernya, antara lain Dr. H. Huzaemah, M.Ag., Dr. KM. Mutaillah, M.Pd.I., Dr. H. Andi Muhammad Akmal, S.Ag., M.H.I., Dr. H. Fitriadi, S.Ag., M.Ag., dan H. Sopyan Akhmad, S.Kom., MM.
Dari merekalah ia belajar banyak soal kebijaksanaan, tanggung jawab, dan makna pengabdian yang sesungguhnya.
Kini, dengan status baru dan tanggung jawab yang lebih besar, Andi Fathurrahman memandang pencapaian ini bukan sebagai garis finis, melainkan awal dari babak pengabdian yang lebih berat dan bermakna.
Baginya, menjadi Pranata Humas adalah sebuah amanah besar untuk menjembatani informasi, membangun citra positif instansi, dan melayani masyarakat dengan tulus.
"Pencapaian ini bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Saya berharap setiap langkah pengabdian yang saya lakukan ke depannya dapat menjadi keberkahan bagi keluarga, instansi, masyarakat, bangsa, dan negara," ujar Andi Fathurrahman.
Kisah Andi Fathurrahman adalah bukti nyata bahwa kesuksesan bukan soal secepat apa kita sampai, melainkan sekuat apa kita bertahan hingga sampai ke garis akhir.
Sebuah inspirasi bahwa kerja keras, kesabaran, dan doa akan selalu bertemu di titik terindah yang disebut waktu terbaik.
Penulis: Cc@ye


